Sumber: jabarekspres.com
Setiap hari, Jawa Barat menghasilkan sampah dalam jumlah yang mengejutkan—sekitar 35.000 ton per hari. Berdasarkan data, dari 50.345.190 jiwa penduduk Jawa Barat, menghasilkan rata-rata 0,7 kg sampah per hari. Komposisi terbesar adalah sampah organik (60%), sementara 40% lainnya merupakan sampah non-organik.
Tantangan yang dihadapi saat ini adalah baru sekitar 40% sampah yang tertangani dengan baik, sedangkan 60% sisanya belum terkelola dengan memadai. Kondisi ini membutuhkan penanganan dan kesadaran yang menyeluruh dari semua pihak.
Salah satu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang mengalami situasi darurat adalah TPA Sarimukti. TPA ini telah mengalami kelebihan kapasitas hingga 1.000%, yang seharusnya hanya menampung 2 juta meter kubik sampah, kini telah terisi sebanyak 24 juta meter kubik. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya ‘ledakan sampah’ yang dapat merusak lingkungan sekitar. Situasi ini menunjukkan perlunya pengurangan ritase pengangkutan sampah di berbagai wilayah, terutama di kawasan Bandung Raya.
Sumber: jabarprov.go.id
Sejumlah daerah di Bandung Raya telah berusaha mengurangi jumlah ritase pengangkutan sampah, seperti Kabupaten Bandung. "Kabupaten Bandung dari 70 ritase menjadi 40 sudah dilakukan, bagus, tapi harus betul-betul dicek jangan sampai ada yang dibuang ke sungai Citarum," ucap Herman Suryatman, Sekretaris Daerah Jawa Barat (23/10/2024).
Begitu pula di Kota Cimahi. Terjadi pengurangan ritase sampah dari yang sebelumnya 37 rit per hari kini turun menjadi 25 rit, dari target 17 rit.
Meski begitu, Kota Bandung justru mengalami peningkatan ritase hingga 180 rit per hari. Padahal, Kota Bandung memiliki target untuk mengurangi ritase sampah dari 170 rit menjadi 140 rit. Peningkatan ritase juga terjadi di Kabupaten Bandung Barat yakni menjadi 25 rit per hari dari 20 rit.
Jika melihat data di tahun sebelumnya, jumlah sampah di Bandung Raya tidak jauh berbeda dengan tahun 2024 seperti yang telah dijabarkan di atas. Tercatat, Kota Bandung masih dengan angka tertinggi dalam jumlah sampah yang dihasilkan, sedangkan Kabupaten Bandung Barat menjadi wilayah dengan timbunan sampah terendah.
Sumber: Open Data Jabar
Sedangkan jika dilihat perbulan, ritase sampah di Kota Bandung pada Desember 2023 mencapai angka 5.865, diikuti oleh Kabupaten Bandung dengan 2.245 ritase. Angka ini menunjukkan skala besar dari sampah yang harus dikelola di wilayah Bandung Raya, mencerminkan tantangan pengelolaan sampah yang semakin mendesak untuk segera ditangani dengan solusi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Sumber: Open Data Jabar
Tumpukan sampah bukan hanya masalah kebersihan yang terlihat kasat mata; di balik itu, ada ancaman yang jauh lebih besar. Limbah yang tidak dikelola dengan baik menghasilkan emisi gas berbahaya seperti metana, yang dilepaskan saat sampah organik membusuk di tempat pembuangan.
Emisi metana tidak hanya berasal dari limbah seperti sampah, tetapi juga dari aktivitas manusia di sektor energi dan pertanian. Gas ini memperparah pemanasan global dan membawa dampak serius bagi lingkungan, iklim, hingga kesehatan manusia.
Emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄) meningkatkan suhu rata-rata bumi, yang menyebabkan perubahan iklim. Peningkatan suhu global ini mempengaruhi cuaca ekstrem seperti gelombang panas, banjir, dan badai.
Akibat dari pemanasan global, lapisan es di kutub utara dan selatan mulai mencair, menyebabkan kenaikan permukaan air laut. Dampaknya, wilayah pesisir berisiko mengalami banjir, yang dapat menghancurkan pemukiman, lahan pertanian, dan infrastruktur.
Peningkatan suhu dan kualitas udara yang buruk akibat emisi gas rumah kaca meningkatkan risiko penyakit pernapasan, alergi, serta penyakit terkait panas seperti heatstroke. Penyakit yang disebabkan oleh polusi udara juga dapat meningkat.
Menurut laporan International Energy Agency (IEA), emisi metana global pada tahun 2022 mencapai 580 juta ton, dengan Indonesia berada di posisi ke-6 sebagai salah satu penghasil gas metana terbesar, menyumbang 14,3 juta ton. Laporan IEA bertajuk Global Methane Tracker 2023 menjelaskan bahwa metana bertanggung jawab atas sekitar 30% peningkatan suhu global sejak Revolusi Industri. Pengurangan emisi metana yang cepat dan berkelanjutan dianggap krusial dalam membatasi pemanasan global jangka pendek sekaligus meningkatkan kualitas udara.
Sumber: cnbcindonesia.com
Beberapa bulan terakhir, satelit Tanager-1 telah mendeteksi ribuan emisi metana di seluruh dunia. Melalui akses dari data.carbonmapper.org. Teknologi ini membantu kita dalam memantau emisi metana di atmosfer, yang tersebar dari berbagai sumber di permukaan bumi, termasuk dari tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Di Pulau Jawa, teridentifikasi tiga titik sumber emisi metana. Pertama, TPA Galuga di Bogor yang menghasilkan emisi hingga 1.200 kilogram per jam. Ini setara dengan emisi yang dihasilkan oleh lebih dari 119 ribu mobil yang berjalan terus menerus selama satu jam!
Dua titik lainnya yang terdeteksi yaitu TPA Rawa Kucing di Tangerang dengan 590 kg metana per jam dan TPA Cilowong di Serang. Meski tak terdeteksi berapa kg metana di Serang, namun terdeteksi adanya plume emisi.
Untuk mengatasi tumpukan sampah yang terus bertambah, Pemdaprov Jawa Barat telah merancang beberapa strategi utama dengan berfokus pada penyediaan infrastruktur dan program edukasi sebagai berikut:
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendirikan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) di Legok Nangka dan Lulut Nambo. Fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah yang lebih baik dan efektif serta membantu mengubah sampah menjadi bahan baku bernilai ekonomi.
Pemdaprov Jawa Barat memperkuat pengelolaan sampah melalui SampahKita yang tersedia di aplikasi Sapawarga. Lewat aplikasi ini, pengguna bisa dengan mudah menemukan lokasi bank sampah terdekat dan melihat perkiraan harga sampah yang diterima di setiap bank sampah.
Jika ada pertanyaan, pengguna juga bisa dengan mudah menyampaikannya via WhatsApp melalui nomor yang tertera di aplikasi Sapawarga. Sejak peluncuran pada 9 September 2024 hingga 12 September 2024, aplikasi ini telah diakses sebanyak 527 kali oleh 421 pengguna.
Tentunya evaluasi secara berkelanjutan harus terus diupayakan untuk memantau efektivitas teknologi dan metode baru yang diterapkan. Diharapkan berbagai strategi seperti pembangunan TPPAS dan penguatan Bank Sampah melalui aplikasi Sapawarga dapat berjalan optimal. Upaya ini bukan hanya tentang infrastruktur yang kuat, tetapi juga tentang membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah.
Yuk, mulai pilah sampah dari rumah. Lakukan perubahan kecil demi lingkungan yang lebih bersih dan sehat! 🌱
Referensi:
https://opendata.jabarprov.go.id/id/dataset/jumlah-penduduk-berdasarkan-provinsi-di-indonesia