Sumber: freepik.com
Pemanasan global menjadi isu yang semakin mendesak untuk ditangani. Dampaknya terasa di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Perubahan iklim yang drastis akibat pemanasan global telah menyebabkan berbagai konsekuensi serius di berbagai sektor kehidupan, termasuk lingkungan, sosial, dan ekonomi.
Kondisi pemanasan global ini sungguh menghawatirkan. Tanda-tandanya pun mulai terasa, seperti iklim yang mulai menghangat. Pada tahun 2022, suhu permukaan bumi naik 0.98 derajat Celcius dibanding suhu rata-rata tahunan periode 1951-1980.
Salah satu penyebab pemanasan global yang paling terasa adalah menghangatnya suhu akibat aktivitas manusia yang terus memompa gas rumah kaca dalam jumlah yang besar ke atmosfer. Gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O), memiliki kemampuan untuk menyerap dan mempertahankan panas di atmosfer.
Jawa Barat jadi provinsi dengan jumlah kejadian cuaca ekstrem tertinggi di Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, Jawa Barat telah mengalami perubahan signifikan akibat pemanasan global.
Dampak yang mulai terasa adalah perubahan pola cuaca yang tidak terduga. Penyimpangan cuaca seperti curah hujan yang tidak merata, periode kekeringan yang panjang, dan intensitas suhu yang ekstrem menjadi masalah yang harus dihadapi oleh masyarakat Jawa Barat.
Jawa Barat jadi provinsi yang paling sering dilanda cuaca ekstrem di tahun 2021 dengan total 478 kejadian. Disusul dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan masing-masing 206 dan 122 kejadian.
10 Provinsi dengan Kejadian Cuaca Ekstrem di Indonesia Tahun 2021
Sumber: databoks.katadata.co.id
Pemanasan global juga mempengaruhi sektor pertanian di Jawa Barat. Curah hujan yang tidak merata dan periode kekeringan yang panjang membuat petani menghadapi tantangan dalam mengelola lahan pertanian mereka. Produksi tanaman menjadi terganggu, mengakibatkan penurunan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Tidak hanya itu, dampak pemanasan global terhadap lingkungan juga terlihat pada ketersediaan air bersih di Jawa Barat. Perubahan pola hujan menyebabkan penurunan ketersediaan air tanah, sungai, dan danau. Masyarakat Jawa Barat di beberapa daerah harus menghadapi krisis air bersih yang serius, terutama selama musim kemarau yang panjang.
Fenomena El Nino picu terjadinya kemarau panjang
El Nino merupakan kondisi peningkatan suhu akibat suhu air laut di Samudra Pasifik memanas di atas rata-rata suhu normal. Akibatnya, curah hujan yang berkurang di musim hujan dan berdampak pada musim kemarau berkepanjangan.
Ilustrasi Kondisi Laut Ketika Fenomena La Nina dan El nino. Sumber: BBC Indonesia
Fenomena ini berdampak pada perubahan pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sebagai negara yang melintasi garis khatulistiwa, Indonesia menjadi salah satu negara yang rentan terhadap dampak dari fenomena El Nino.
Ketika terjadi El Nino, monitoring dan pemantauan cuaca dan iklim menjadi penting untuk memberikan peringatan dini terkait kemungkinan kemarau panjang. Apabila tidak ada tindakan pencegahan yang dilakukan, konsekuensi dari musim kemarau yang berkepanjangan seperti potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman yang nyata.
Langkah pemerintah untuk mengurangi dampak pemanasan global
Jawa Barat berusaha menekan angka produksi gas rumah kaca, yang menjadi salah satu faktor penyebab pemanasan global. Upaya ini dilakukan di berbagai sektor prioritas, seperti penggunaan energi, kehutanan, limbah, pertanian dan transportasi.
Di tahun 2021, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat (Pemdaprov Jabar) menyusun strategi agar angka produksi gas rumah kaca di Jawa Barat menurun melalui penetapan persentase target penurunan di berbagai sektor.
Persentase Target dan Capaian Penurunan Gas Emisi Rumah Kaca Berdasarkan Sektor Prioritas Penanganan di Provinsi Jawa Barat
Sumber: Open Data Jabar
Sektor energi dan limbah menjadi dua sektor yang belum mencapai target. Pada sektor energi memerlukan 3,23 persen lagi untuk mencapai target, sedangkan sektor limbah angka target dan capaian masih terpaut jauh, yaitu 11,4 persen.
Ikut ambil peran dalam menghadapi tantangan global
Partisipasi aktif dan kesadaran masyarakat menjadi kunci dalam mengurangi dampak pemanasan global. Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, mengadopsi pola hidup yang lebih ramah lingkungan, dan mendukung program-program lingkungan menjadi tanggung jawab kita bersama.
Sumber: freepik.com
Meskipun mungkin terlihat kecil, tindakan ini dapat memiliki dampak positif jika dilakukan secara kolektif.
Pemanasan global jadi masalah serius yang memerlukan tindakan kolektif. Dengan upaya bersama, kita dapat melindungi lingkungan dan masyarakat dari dampak yang lebih buruk.
Saatnya bertindak, beradaptasi, dan menjaga keberlanjutan untuk masa depan yang lebih baik.
Referensi:
https://www.bbc.com/indonesia/majalah-64235697