Di kala Dunia Menuju Teknologi Metaverse

30 Mei 2022
1.443
Belakangan ini, teknologi metaverse menjadi topik yang lagi hangat diperbincangkan di seluruh dunia. Hasil survey Statistika yang dilakukan pada 4 Februari 2022, sebanyak 52% responden ingin masuk ke metaverse agar bisa mendapatkan pengalaman bekerja di ruang kerja virtual. Khusus di Indonesia, menurut survey PT. AMI, ada 69% dari responden generasi Z mempunyai minat terhadap metaverse. Metaverse sebagai Tren Teknologi Digital Terbaru Sebenarnya, istilah metaverse bukan hal baru, istilah ini muncul pada tahun 1992, dari novel karya Neal Stephenson yang bertajuk Snow Crash. Namun, teknologi yang muncul di antara element web 3.0, blockchain, dan virtual reality ini mengalami kepopulerannya pada saat Mark Zuckerberg getol mempromosikan metaverse, bahkan mengubah nama induk Facebook menjadi Meta, 29 Oktober 2021 lalu. Secara sederhana, metaverse bisa kita pahami sebagai lingkungan online yang menjadi tempat nyata lain bagi para penggunanya dalam melakukan ragam aktivitas. Menurut Meta, perlu waktu 5 hingga 10 tahun untuk mengembangkan metaverse agar software dan hardware-nya benar-benar siap. Dari Dangdutan sampai Sekolah Bisa Digelar di Metaverse Ada ragam aktivitas dari berbagai sektor yang akan dan sudah bisa dilakukan lewat metaverse. Di sektor pemerintahan ada Ibu Kota Korea Selatan (Seoul) yang sudah sangat serius menjajal teknologi ini. Dengan diberi nama “Metaverse Seoul”, pemerintahan yang dipimpin oleh Walikota Oh Se-hoon berencana akan menginvestasikan dana sebesar 3,3 juta dolar AS. Ini bagian dari proyek Seoul Vision 2030, sebuah proyek ambisi sang Walikota dalam mewujudkan Seoul sebagai pemimpin di pasar kota masa depan. Di negara Uni Emirat Arab (UEA), ada pasangan muda yang menggelar pesta pernikahan di Decentraland–ruang virtual yang berdiri di atas blockchain Ethereum. Acaranya digelar setelah melaksanakan janji suci di dunia nyata. Pesta pernikahan ini sangat menarik, pasalnya gaun sang wanita dibuat di blockchain poligon dan cincinnya berbentuk NFT. Sementara, sertifikat pernikahan berbentuk smart contracts di metaverse. Di Indonesia, teknologi metaverse sudah mulai dikembangkan oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Bappenas RI) sedang merancang modeling Ibu Kota Baru (IKN) dalam bentuk metaverse. WIR Group & CAKAP sedang mengembangkan metaverse pada sektor pendidikan. Pada sektor hiburan, ada Indonesia Digital Cooperatives (IDM Co-op) yang akan menggelar konser dangdut di metaverse, mereka akan menampilkan sang raja dangdut Rhoma Irama dalam bentuk avatar. Metaverse, Teknologi untuk Generasi Mendatang Berdasarkan data Statistika, bahwa potensi peluang pasar metaverse di seluruh dunia berkisar dari 3,75 triliun hingga 12,46 triliun dolar AS. Indonesia sendiri digadang-gadang menjadi pasar potensial metaverse. We Are Social merilis jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2021 mencapai 202,6 juta pengguna, 170 juta penggunanya menggunakan media sosial. Merespon potensi pasar yang begitu besar, Presiden Jokowi telah memerintahkan kepada menteri terkait guna menyiapkan upaya dan strategi pengembangan teknologi metaverse. Terbaru, dipertengahan bulan Mei 2022, media diramaikan dengan pertemuan Presiden Jokowi bersama sang super inovator teknologi, Elon Musk di Gedung Stargate Space X, Texas, Amerika Serikat. Pertemuan ini membuat perusahan Starlink–anak usaha SpaceX berencana memperluas jangkauan wilayah layanannya, termasuk di Indonesia pada 2023. Starlink terkenal karena menyediakan layanan jaringan internet dengan sangat cepat. Tak hanya itu, pemerintah Indonesia melalui Kemenkominfo juga telah membangun infrastruktur digital secara masif, mulai dari fiber optic, jaringan fiber-link, microwave link, satelit, hingga BTS. Potensi ekonomi dan pemanfaatan teknologi mateverse di berbagai sektor tentunya akan dirasakan oleh generasi di masa mendatang atau sebagian dari generasi produktif saat ini. Badan Pusat Statistik (BPS) RI mencatat, jumlah penduduk produktif di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 191.088.210 orang, sebanyak 32.636.631 orang (17,8 persen) berada di Jawa Barat. Dengan jumlah usia produktif sebanyak ini, sumber daya manusia (SDM) di Jawa Barat diharapkan ikut andil dalam proses pengembangan teknologi digital terbaru ini–tak hanya sebagai user tetapi juga sebagai developer.
Topik
Disusun oleh
Jabar Digital Service